Hujan Bakda Maghrib Ini

Bismillah

Akan ada banyak pilihan untuk menjalani kehidupan. Menjadi tetap baik walau dikhianati atau menjadi beringas ketika yang terjadi tak sesuai dengan keinginan hati.

Masing-masing kita hanya harus perlu memilih, bertahan menjadi orang baik dengan terus menjaga reputasi atau mengedepankan ego agar merasa diri tidak tersakiti lagi.

Selamat Sore, barangkali diluar sana masih cerah dan tak ada tetesan hujan. TAPI kalian harus tahu, bahwa di Kota ku kini rintik tak henti membasahi bumi, begitu juga dengan kedua waduk di bola mataku. Tak ada bedanya…..

Bismillah

Setiap langkah dan rekam jejakmu akan menjadi sejarah bagi orang-orang. Sebab memang, kehidupan memberi tahu dan kembali menghadirkan sejarah, menampilkan masa sekarang dan tentu menghadiahi masa depan. Yang dibutuhkan oleh masing-masing kita hanyalah “tabungan” berupa kesiapan untuk menapaki kehidupan yang selalu berjalan dan terus berputar bagai roda-roda yang juga mengajari kita arti perubahan.

Apa Kabar Hari Ini?

BISMILLAH

Mensyukuri apa yang dimiliki saat ini adalah cara paling utama dan ampuh mengusir suramnya kenangan masa lalu yang telah melukai hatimu.

Kehidupan takkan pernah sama dari masa ke masa. Kita hanya perlu cara agar semua yang akan menimpa kita kelak dapat teratasi tanpa menafikan Tuhan Sang Maha Mengetahui.

Singgalang Posted, My Short Story (its not to good, but i love the manner from the story)

SI “OTAK UDANG”

“kemana si gendut tadi?” Kudengar sayup pertanyaan salah seorang teman kepada temanku yang lain. Aaah, aku tak peduli. Kupikir hanya ingin meminjam atau mungkin minta ditemani ke kampus. Kulanjutkan perjalanan menuju kantor, yaaa tempat dimana aku diberi kesempatan untuk bekerja parttime.

Tapi sayang, hati dan pikiranku kali ini tak bisa diajak kompromi. Entah kenapa mereka memaksa agar aku kembali lagi ke asrama. Padahal, sama sekali tak ada yang tertinggal. Kujinjing laptop dan beberapa perlengkapan lain. Kali ini, langkahku lebih tegas dan terkesan terburu-buru. Kupastikan mereka tak menceritakan kekuranganku. Aku cemas.

Dengan wajah penuh harap, kunaiki tangga asrama perlahan. Kusiasati agar derap langkahku tak terdengar siapapun. Ahaaa, dan akhirnya aku berhasil. Kurasa tak ada yang tahu aku kembali ke rumah keduaku itu. Kududuki tangga, kudengar riuhnya mereka menceritakanku. Berderu-deru kalimat hujaman yang menelantarkan hatiku. Kucermati rangkaian kalimat hinaan kepada fisik sekaligus potensiku. Dan itu yang membuatku tak tahan dan lantas menangis. Lagi-lagi aku lemah, sangat lemah.

Banyak kata cemooh Hana yang teruntai dari bibir manisnya untuk memojokkanku dihadapan teman lain. Hanya satu kata yang hingga saat ini tak bisa aku terima. Kudengar jelas, amat sangat jelas! ‘paja tu otak udang bana’. “meringkik hatiku mendengar kalimat hinaan kali ini”. Kata paja yang merupakan kata ganti untuk dirinya di bahasa minang terdengar sangat kasar untuk susunan kalimat yang digunakan.

Kulepas alas kakiku, kumasuki asrama tanpa salam. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Hening, kegaduhan tak lagi terdengar tentu. Suasana mencekam akan segera tercipta! Lantas, satu persatu mereka yang kurasa sedari tadi berkumpul untuk menghina ketidakmampuanku mulai berdiri. Berusaha mengelak lalu pura-pura sibuk mengerjakan hal lain.

Kali ini, giliranku yang berpura-pura sibuk. Kuitari deretan ranjang tidur yang tersusun rapi. Kupura-purai diri sibuk mencari kertas-kertas disela tumpukan buku. Dan akhirnya, dengan mengumpulkan seluruh kesadaran dan kesabaran yang memang tak berbatas, kupecah hening dengan nada sangat santai menyampaikan informasi. “ukhty, nanti kita ada kelas dengan pak Umar. Jangan ada yang terlambat!”

Tak ada yang menyahuti, dan kurasa aku harus pergi dan menjauh kini. Tak sanggup. Aku takkan mampu bertahan di tempat yang saat ini kurasa seperti neraka. Satu persatu sudutnya membakar tubuh dan perasaanku.

Tak kuhiraukan raut wajah atau bahkan kode yang mereka gunakan untuk memahami kejadian itu. Kulangkahkan kaki perlahan, menghilang dari hadapan para bedebah itu. Kacau. Sepanjang perjalanan kuingat kembali apa saja kesalahan yang kulakukan sehingga aku dibegitukan. Entah apa yang membuat mereka begitu memojokkanku. Kalimat hinaan yang hingga saat ini takku terima adalah dikatai “otak udang”.

Kurasa, gelar otak udang yang mereka sematkan kepadaku hanya karena perolehan hasil semester atau IPK -dalam dunia kampus yang kuraih berkisar di angka 2 koma. Aku sadar sekali, hanya nilai itu yang mampu aku raih melalui kerja keras dan kesungguhan belajarku. Tak lebih. Dan, jika mengukur diri dengan nilai yang mereka dapatkan, aku kalah telak. Nilai-nilai yang mereka miliki berkisar di angka 3 koma. Fantastis sekali. Jika diukur dari nilai perolehan kami, aku memang dinilai lebih bodoh.

Dengan hati remuk dan perasaan yang bercampur aduk, kutemui salah seorang senior yang sudah kukenal sejak masa SMA. “kak, teman-teman asrama mengataiku ‘si otak udang’. Ia bergeming, memastikan aku tak menangis. Dengan lembut menjawab, “biarlah, toh mereka juga meraih nilai tinggi karna ketidakjujuran, rekayasa yang selalu disekongkoli.” Aku terdiam. Setauku, peraturan di kampus ini jelas mengharamkan mahasiswinya mencontek. Jangankan mencontek ketika ujian, menyalin bahan makalah mentah-mentah milik orang lain saja, sudah dikritik para dosen dan bahkan ancaman untuk mengulang bidang studi yang bersangkutan tahun depan.

Aku mangut-mangut mengiyakan kalimat kak Ica, seolah paham dan mengerti dengan maksud dan nasehatnya. Kali ini aku menjadi lebih tenang, meski pada awalnya aku tak paham maksud perkataannya.

Tak sabar, aku kembali ke asrama. Sepanjang jalan, kusiapkan kalimat untuk memaki-maki mereka yang telah menghinaku. Aku sangat marah karena hinaan itu lebih pantas untuk mereka. Tapi terbalik, justru aku yang jadi korbannya. Padahal buktinya, mereka meraih nilai-nilai bagus itu dari hasil mencontek. Geram. Baru kutahu sebab mengapa mereka yang malas, justru berhasil mendapat nilai yang hanya pantas diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh. Dengan wajah merah padam, kumasuki asrama, tanpa salam tentu.

Kesabaran sudah sangat habis, pikiranku sudah memikirkan dan menyusun siasat agar aku bisa lebih tenang. Kurasa, ketenanganku kali ini hanya bisa diperoleh dengan cara menyerang balik. Tak sabar, kusapu peluh di dahi yang semakin banyak.

Sesampainya di dalam asrama, kejadian ganjil yang justru kudapati. Teman yang mengataiku “otak udang” tadi, justru tengah terbaring lemas dalam kerumunan teman-teman lain. Untuk kali ini, aku tak mungkin mengedepankan ego kekanak-kanakanku. Kuputar balik semua rencana burukku.

Kudatangi tempat tidurnya, tak sabar, dengan cepat aku menelepon kak Jihan, dokter poliklinik fakultas kami. Dengan segera kak jihan menangani kondisi temanku itu, lalu bergegas memeriksa dan memastikan bahwa hana harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. Kami saling berpandangan, melihat satu sama lain mencari jawaban apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan hana.

Tanpa kompromi dengan teman lain, bergegas aku mencari pertolongan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Kuhubungi karyawan-karyawan bersangkutan untuk menolong temanku. Akulah yang paling sibuk saat itu. Semua niat burukku untuk membalas seluruh sakit hati dan dendamku terkubur dengan rasa setia kawan yang lebih tinggi. Aku sadar, kami sama-sama merantau, jauh dari orangtua dan keluarga. Serta serba pas-pasan dalam kondisi ekonomi dan harus saling tolong-menolong.

Septi, indah, dan fitri membantuku untuk memapah hana kedalam mobil. Kali ini kondisinya turun drastis. Nafasnya terdengar semakin sesak dan tersengal. Aneh! Darah segar mengalir dari hidungnya. Aku semakin cemas mengingat jarak tempuh sekolah dengan rumah sakit tujuan kami sangat jauh. Darah segar tak henti-hentinya mengalir dari hidung temanku itu. Pucat pasi wajahnya tampak mengerikan. Kupinta fitri untuk melafadzkan ayat-ayat suci al-qur`an ditelinganya. Aku getir, lama sekali waktu yang kami butuhkan agar bisa segera sampai di rumah sakit.

“sabarlah siska, sebentar lagi kita juga sampai. Perjalanan ini terasa lama karna kau terlalu tak sabar dan terburu-buru”. Kusergak indah. “bagaimana aku bisa sabar dengan kondisi buruk hana saat ini, kalo ada apa-apa dengannya gimana? Kan kita yang kena”. Indah diam tak bergeming membalasi kalimatku.

Tak lama, kulihat gerbang rumah sakit islam nan asri dan bersih itu. Bergegas septi menghubungi staf jaga di instalasi gawat darurat, dan tentu dengan gaya bahaya khas campuran minang dan kampung aslinya di aceh. Bergegas perawat menyodorkan troli besi untuk memindahkan hana. Bajunya basah dipenuhi darah segar yang mengalir dari hidung. Staf jaga meminta salah satu diantara kami untuk menyelesaikan administrasi perawatannya terlebih dahulu. Lagi-lagi aku dijadikan sasaran mereka untuk mengurusnya.

“kak, ini mau diapakan berkasnya?” Kutanyai petugas dengan wajah sangat polos. “identitas temannya tolong diisi lengkap yaa dek.” Aku mengeryit, jujur saja aku tak paham dengan apa yang harus kulakukan. Tertera disana alamat lengkap, nama orangtua, pekerjaan orangtua, dan hal lain. Aku tersenyum dan berkata kepada petugas, “kak, nanti aja kalo aku kesini lagi gimana? Aku gag tau apa yang harus diisi”. Petugas mengangguk dan berpesan agar aku segera kembali untuk mengurus admistrasi aneh itu.

Kulihat lagi kondisi hana yang kini semakin menakutkan. Infus sudah dipasang rapih ditangan, dan selang oksigen lekat dihidungnya. Dalam sadar, kuberdo’a agar aku tak pernah mengalami kondisi ini. Aku tak siap dengan siksaan dari benda-benda yang dipaksa masuk ke dalam tubuh para pesakit di tempat ini.

Tak lama berselang, dokter yang tengah bertugas memasuki ruangan tempat hana di evakuasi. Salah seorang perawat meminta kami untuk keluar dari ruangan agar dokter lebih leluasa memeriksa kondisi hana. Kami patuh saja. Kuingat permintaan staf jaga tadi, kurasa indah lebih tau mengenai keluarga dan identitas-identitas lain tentang hana. Indah patuh saja mengikuti langkahku, kali ini giliranku mengerjainya. “kak, ini saudaranya temanku yanng sakit tadi.” Petugas itu menyodorkan sebuah map hijau berisi berkas-berkas yang harus dilengkapi indah. Aku tersenyum, “kau yang lebih tau ndah”. Ia merengut. Aku pergi dan berlalu.

Benar firasatku, hana harus dirawat dahulu di rumah sakit sampai kondisinya pulih. Dan tak cukup waktu sekitar 2 hari untuk perawatannya. Kami berembuk membahas segala hal yang berkaitan dengan kesehatan hana. Mulai dari siapa yang akan berjaga merawatnya di malam hari, bagaimana dengan admisnistrasi yang harus segera diselesaikan dengan pihak rumah sakit, hingga izin untuk tidak mengikuti perkuliahan hana dan kami yang menjaganya nanti.

Sebenarnya mudah saja untuk urusan administrasi, tapi Hana berpesan agar kami tak membetihukan perihal kondisinya kepada orangtua di kampung. Kabar terakhir yang kudengar ayahnya mengidap penyakit darah tinggi, apalagi hana adalah anak kesayangan orangtuanya di rumah, karena memang ia perempuan satu-satunya diantara 8 bersaudara. Ia berpesan agar kami mengurusi segala sesuatunya lebih dahulu, nanti jika kondisinya sudah pulih, ia akan mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan untuknya. Kami mengangguk tanda setuju atas pesannya.

setelah sholat maghrib, kusampaikan keinginanku untuk pulang ke asrama kepada teman-teman. jujur saja, aku tak betah berlama-lama berada di Rumah pesakitan ini. mereka berat untuk mengiyakan permintaanku, karna kondisi yang tak lagi terang dan gerimis yang menyapu kota kecil ini. kuyakinkan mereka kalau aku akan lebih baik jika tak berada disini, dan kujanjikan untuk meminta anggota asrama yang lain menggantikanku dan teman lain yang telah mengurus Hana di Rumah Sakit. akhirnya mereka setuju.

malam itu, tepat pukul 23:00 telpon genggamku kembali berdering. dengan sangat mengantuk, kuangkat telepon yang kurasa sangat mengganggu itu. terdengar diseberang sana orang memohon agar aku segera kembai ke Rumah Sakit. “kenapa lagi?” nada bicaraku sangat tak enak. terus terang saja, aku benci diganggu jika sedang istirahat.

“kau harus segera kembali ke Rumah Sakit Sinta, keadaannya semakin memburuk. dia butuh tranfusi darah. tolong saja kau bangunkan teman-teman asrama yang bisa membantu kita, kondisi ini genting”. aku tersentak kaget. pikiranku bertindak segera, membangunkan seisi asrama dengan nada suara mengagetkan adalah jurus utamanya. teman-teman bangun, dan menanyai alasanku membangunkan mereka.

kujelaskan dengan tergesa-gesa agar lebih meyakinkan bahwa aku sangat membutuhkan pertolongan mereka. “Hana butuh transfusi darah segera, kita tolong sekarang”. semua bergegas beranjak dari tempat tidur, mengemas diri agar bisa segera sampai di Rumah Sakit. “Alhamdulillah kuucap dalam hati. setelah kupastikan kami semua siap menyusul Hana di tempat pesakitan itu, tantagan kedua yang harus kuhadapi adalah transportasi. di tengah malam buta adalah waktu dimana para supir dan karyawan yang bertugas istirahat. aku hampir menyerah.

dibawah gelapnya malam yang dihimpun formasi bintang gemintang, kami berdoa semoga selalu ada pertolongan seperti yang hadir sebelum-sebelumnya. Maha Sucilah Dia. tak lama kami menunggu, Pak Eko satpam kompleks asrama, menghampiri kami. “kenapa malam-malam masih diluar nanda?”. beliau menyapa dengan suara paraunya. “pak, maaf sebelumnya, teman kami yang dirawat di Rumah Sakit lagi butuh tranfusi darah.” kali ini si ketua asrama yang sangat pendiam angkat bicara. “ka pai jo oto apo nak?”, pak eko bertanya dengan penuh rasa iba memastikan dengan menggunakan apa kami akan sampai disana. “jo apak bisa kan?”. aku tak lagi bisa bersabar.

akhirnya, pak eko dengan ketulusan hati bersedia menolong kami. tak ada yang berniat memejamkan mata seperti biasa jika tengah berada dalam perjalanan. hening. semua tengah berdoa dan berharap semoga Hana bisa segera pulih. sesampainya di Rumah Sakit, kami bergegas mengucap terimakasih kepada pak Eko yang telah menolong. satu persatu teman sekaligus senior yang tinggal di asrama berlari menuju ruang Hana dirawat. aku berjalan santai dibelakang sambil memikirkan, darah siapa yang harus didonorkan untuk menyelamatkan Hana.

baru saja aku sampai diruangan, Fitri memintaku untuk menemui petugas medis. sebenarnya aku tak tahu apa yang harus aku kerjakan, tapi mengingat pesannya agar aku dan kawan-kawan lain men-check golongan darah kami. aku patuh saja, kutemui salah seorang perawat yang tengah berjaga malam itu. “Pak, kami mau check darah yang cocok untuk teman kami yang sakit. aku yang selalu berani untuk bertanya. serasa bermimpi berada di Rumah Sakit ditengah malam buta ini. huffhhh, kesal sekali aku rasanya.

setelah melakukan pen-check-an darah, ternyata aku adalah orang yang paling tepat untuk mendonorkan darah kepada Hana. awalnya aku keberatan, karena kondisi fisik yang sedang tidak menungkinkan. akhirnya aku pasrah dengan bujukan teman-teman, semoga saja Allah selalu menjaga dan melindungi dari berbagai hal. dengan bismillah, kuberanikan untuk menyerahkan tubuhku disiksa dengan jarum suntik itu. semoga saja, dengan kerelaan hati dan keihklasan yang mendalam Hana bisa segera sembuh.

Seminggu berjalan, Hana akhirnya pulih kembali dan diizinkan dokter untuk pulang. Kudengar kabar baik itu dari teman yang merawatnya di rumah sakit. Sudah lama aku selalu menolak untuk menginap di Rumah Sakit karna beberapa hal. Alasan pastinya, karna aku trauma dan terlalu benci dengan Rumah Sakit. “maaf, aku dipanggil kepala asrama” kalimat ini selalu ampuh untuk menolak permintaan teman-teman ketika diminta untuk bergiliran merawat Hana. Meski begitu, aku tak lantas berdiam diri. Kutunggu kedatangannya dengan menyiapkan dipan agar ia nyaman beristirahat. Tak lama berselang, dua teman datang memapah Hana sembari mengucap salam. Ahaaa, ini dia. Teman kami sudah sehat dan dia sudah kembali ke asrama. anggota asrama kami sudah lengkap, dan ini adalah masa-masa tepat untuk mengobrol dan bercerita seperti biasa, ritual anak asrama.

setelah tertawa dan bercerita panjang lebar, kali ini, Hana yang angkat bicara. “Putri, maafin Hana yaaaa. Kemaren Hana udah ngatain anti. Tapi waktu Hana sakit, malah anti repot dan nolongin Hana. aku minta maaf banget yaaa, semoga kamu gag pernah benci ke Hana.” Hening, tak ada yang angkat bicara menyahuti pernyataan hana. Semua tertunduk, menangis. Putri tak angkat bicara, menangis sembari mengangguk dan memeluk hana.

PERKEMBANGAN JIWA AGAMA PADA ANAK-ANAK

BAB I
PENDAHULUAN

Manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian, ia telah memiliki potensi bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan bimbingan dan pemeliharaan yang matang, lebih-lebih pada usia dini.
Berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada manusia, usia kanak-kanak merupakan masa yang paling efektif dalam pembentukan karakter, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai keber-agama-an yang akan dimiliki anak. Agama pada dasarnya harus ditanamkan pada manusia melalui tahap yang sesuai dengan usia dan kebutuhan masing-masing untuk menerima kenyataan akan hal-hal yang tidak selamanya rasional. Meskipun sejak lahir potensi yang paling mendominasi adalah kecenderungan manusia sebagai makhluk sosial dalam beragama.
Dengan demikian, anak yang baru lahir sudah memiliki potensi untuk menjadi manusia yang ber-tuhan. Tetapi jika ada orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan, bukanlah merupakan sifat atau anggapan asalnya, namun erat kaitannya dengan pengaruh lingkungan. Seseorang yang masa kecilnya tidak pernah mendapatkan didikan agama, maka di masa dewasa kelak ia tidak akan pernah merasakan pentingnya agama di dalam kehidupan yang ia jalani. Untuk itu dibutuhkan bimbingan dan perhatian orangtua dalam membentuk kepribadian anak yang agamis.
Seperti sabda Rasulullah SAW yang berarti: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikan ia sebagai Yahudi atau Nasrani.” Dan Imam Ja’far Shadiq as. Menyatakan bahwa fitrah itu berarti tauhid (mengesakan Tuhan), Islam, dan juga ma’rifah (mengenal Tuhan).
Berbeda halnya dengan orang yang di masa kecilnya memiliki pengalaman spiritual yang diperoleh dari agama, misalnya ibu-bapaknya orang yang tahu agama, lingkungan sosial, maka orang tersebut akan dengan sendirinya mempunyai kecendrungan kepada hidup dalam aturan-aturan agama. Terbiasa untuk menjalankan ibadah, takut melanggar larangan agama, dan dapat merasakan betapa nikmatnya hidup beragama.
W.H. Clark berpendapat bahwa anak-anak adalah manusia dalam bentuk, akan tetapi dalam arti masih dekat kaitannya dengan hewan. Disimpulkan dari pernyataan tersebut, jika saja tidak diarahkan sedini mungkin mengenai keyakinan beragama dalam menjalani kehidupan, maka anak-anak manusia yang sempurna lebih mulia sebanding dengan keberadaan hewan yang tidak memiliki akal.
Maka dari itu, dalam makalah singkat ini akan kita ulas sedikit mengenai bagaimana timbulnya jiwa keagamaan pada anak-anak, perkembangan yang terjadi di dalam jiwa mereka, sifat dan ciri-ciri keberagamaan yang dimiliki, dan tingkatan agama pada anak-anak serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jika mereka hanya dibiarkan saja tanpa didikan agama, dan hidup dalam lingkungan yang tidak beragama, maka ia akan menjadi dewasa tanpa agama.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Beragama Pada Anak-Anak
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya. Terutama pada usia 0 hingga 12 tahun. Seorang anak yang pada masa kanak-kananya tidak mendapat pendidikan agama dan tidak pula mempunyai keagamaan, maka di masa dewasa kelak ia akan cendereng kepada sikap negative terhadap agama. Seyogianya agama dapat dijiwai anak-anak bersamaan dengan pertumbungan kepribadiannya, yaitu di masa natal, bahkan pra natal.
Seorang anak mulai mengenal tuhan melalui orangtua dan lingkungan keluarganya. Arthur T. Jersild dan kawan-kawannya dalam The Psychology of Adolescence mengatakan bahwa: biasanya orang atau anak beragama itu dikarenakan orangtuanya beragama, atau karena ia menirukan orangtuanya beragama. Ucapan, perbuatan, sikap dan perlakuan orangtua sangat mempengaruhi perkembangan agama pada anak-anak. Sebelum mampu berbicara, perkembangan utama yang dilalui anak-anak adalah melihat dan mendengar. Namun pertumbuhan agama justru sudah dimulai di masa tersebut.
1. Fase perkembangan beragama pada anak-anak
Menurut penelitian yang dilakukan Ernest Harmar, perkembangan beragama pada anak-anak melalui beberapa fase berikut;
a. The fairy tale stage (Tingkat dongeng)
Tingkat ini dimulai dari anak dalam usia 3-6 tahun. Pada tingkat ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi fantasi dan emosi. Dalam tingkat perkembangan ini, anak-anak seolah menghayati konsep ke-Tuhan-an dalam bentuk yang dinilai kurang masuk akal oleh orang dewasa yang ada disekitarnya. Sebab olah pikirnya masih berada dalam tahap awal. Kehidupan masa ini masih banyak dipengaruhi kehidupan fantasi hingga dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastik yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
b. The realistic stage (Tingkat kenyataan)
Tingkat ini dimulai sejak anak memasuki tahap sekolah dasar hingga usia adolness. Pada masa ini ide ke-Tuhan-an anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (real). Konsep ini timbul melalui lingkungan keluarga, teman bermain, lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran serta orang dewasa lainnya. Pada masa ini pula, ide keagamaan pada anak dilandasi ide emosi. Untuk itu mereka sudah mulai menghadirkan konsep ketuhanan yang lebih formal. Pada masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang mereka lihat dikerjakan oleh orang dewasa yang berada dalam lingkungan di sekitar mereka. Misalnya kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an, majelis taklim yang diikuti orangtuanya, dan lain sebagainya.
Dapat disimpulkan pada masa tersebut anak-anak mengikuti dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala bentuk tindak, tingkah laku atau perbuatan (amal) keagamaan mereka ikuti.
c. The individual stage (tingkat individu)
Pada masa ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sebab dipengaruhi usia yang semakin bertambah. Konsep keagamaan yang individualistik ini terbagi atas tiga bagian, yaitu;
1) Konsep ketuhanan yang konvensial dan formatif dengan dipengaruhi sebagian kecil dunia fantastis. Hal ini disebabkan oleh pengaruh ekternal yang berkembang di lingkungan anak-anak.
2) Konsep ketuhanan yang lebih murni dengan dinyatakan melalui pandangan yang bersifat personal.
3) Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik, agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka pada saat menghayati ajaran agama.
Perubahan tersebut setiap tingkatnya dipengaruhi oleh faktor internal manusia itu sendiri, berupa perkembangan usia yang mempengaruhi kematangan berpikir. Sedangkan faktor eksternal yang turun berperan pada fase perubahan tersebut berupa lingkungan yang terdapar di sekitarnya.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi tersebut berupa dorongan untuk mengabdi kepada Allah sebagai Sang Maha Pencipta. Seperti maksud yang terkandung dalam surat al-A’raf ayat: 172 yang berbunyi:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُم ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِين
Artinya: Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “bukanlah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat Kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).
Dorongan untuk beragama pada anak-anak dikenal dengan istilah bidayatud diniyyah berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya adalah makhluk beragama yang juga akan mati dalam keadaan beragama yang seharusnya melekat pada jiwa dan pribadinya.
Keinginan untuk mengabdi kepada Rabb Sang Pencipta yang ada pada diri manusia pada hakikatnya merupakan sumber keberagamaan yang fitri. Untuk memelihara dan menjaga kemurnian potensi fitrah, maka Tuhan Sang Maha Pencipta mengutus para Nabi dan Rasul. Tugas utama mereka adalah untuk mengarahkan pengembangan potensi bawaan itu ke jalan yang sebenarnya, seperti yang dkehendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Konsep ajaran agama Islam menegaskan bahwa ada hakikat penciptaan jin dan manusia adalah untuk menjadi pengabdi yang setia kepada pencipta-nya. Qs. adz-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi;
ومَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Agar tugas dan tanggung jawab dapat diwujudkan secara benar, maka Tuhan mengutus rasul-Nya sebagai pemberi pengajaran, Uswatun Hasanah dan suri tauladan yang baik. Dalam estafet berikutnya, risalah kerasulan ini diwariskan kepada para ulama. Tetapi tanggung jawab utamanya dititikberatkan pada kedua orang tua.
B. Sifat-Sifat Agama Pada Anak-Anak
Memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti memahami sifat agama. Sesuai dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on outbority. Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya bersifat autoritarius, maksudnya adalah konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh diri faktor eksternal diri mereka. Hal tersebut dapat dimengerti karena sejak dini anak-anak telah melihat dan mempelajari hal-hal yang berada diluar diri mereka.
Anak-anak telah mampu melihat dan mengikuti apa yang dikerjakan dan diajarkan oleh orang dewasa dan orangtua mereka tentang sesuatu yang berhubungan dengan kemaslahatan agama.
Orangtua memberi pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian, ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik anak-anak yang dipelajari dari orangtua maupun lingkungan sekitar. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas;
1. Unreflective (tidak mendalam)
Dalam penelitian machion tentang sejumlah konsep ketuhanan pada diri anak, 73 % mereka menganggap Tuhan itu bersifat seperti manusia. Dengan demikian anggapan mereka terhadap ajaran agama dapat diterima begitu saja tanpa kritik.
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, sehingga cukup sekadarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan ketenangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Meskipun demikian, beberapa anak memiliki ketajaman berpikir untuk menimbang pendapat yang mereka terima dari orang lain. Penelitian Praff mengemukakan dua contoh tentang hal itu;
a. Suatu hari, seorang anak perempuan usia 13 tahun berkesempatan untuk pergi berjalan-jalan bersama ayahnya. Di saat tersebut ia mendapat keterangan dari ayahnya bahwa Tuhan selalu mengabulkan permintaan hamba-Nya. Kebetulan, ia dan ayahnya lewat di depan sebuah toko boneka. Sang anak tertarik para sebuah boneka beruang yang terpajang apik di toko tersebut. Sekembalinya ke rumah, ia langsung berdoa kepada Tuhan untuk apa yang diinginya itu. Karena hal tersebut diketahui oleh ibunya, anak tersebut ditegur ibunya karena di saat gadis kecil itu berdoa ia terkesan sangat memaksakan kehendaknya. Lalu si anak bertanya, mengapa?
b. Seorang anak laki-laki diketahui pernah mendengar doa yang dapat menggerakkan sebuah gunung. Maka dari itu, ia pun berdoa agar gunung yang berpasak di daerahnya juga bergerak dan berpindah ke belahan bumi lain. Namun sayang, kuasa Allah swt belum mengabulkan keinginannya. Karena keinginannya tidak terwujud, maka semenjak itu ia enggan untuk berdoa lagi.
Dari dua contoh di atas, hal-hal tersebut dapat ditemui ketika anak masuk pada usia 12 tahun. Pada masa itu anak-anak sudah mulai menunjukka kekritisan berpikir dan membutuhkan jawaban dan argument yang tepat atas rasa penasaran yang ada di dalam benaknya. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa anak membutuhkan bimbingan efektif untuk mengakhiri keraguan terhadap kebenaran ajaran agams pada aspek-aspek yang bersifat konkret.
1. Orientasi egosentri
Pada ciri ini, anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak pada tahun pertama dalam pertumbuhannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahannya pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Sehubungan dengan hal itu, maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
2. Kekonkritan antropomorfis
Ciri-ciri selanjutnya adalah kekonkrtan antropomorfis dimana kata-kata dan gambaran-gambaran keagamaan diterjemahkan ke dalam pengalaman-pengalaman yang sudah dijalani. Pada sifat ini, anak-anak sudah berusahan unutk menghubungkan penjelasan keagamaan yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat konkret.
Biasanya mereka menggambarkan sosok Tuhan yang tidak tampak tersebut dengan sosok orang yang ada disekitarnya, seperti sosok seorang kakek dan ayah. Dapat disimpulkan, mereka menganggap sosok Tuhan sebagai dzat yang memiliki mata, hidung, telinga, dapat bergerak seperti aktifitas manusia kebanyakan. Ciri selanjutnya mereka juga menganggap bahwa syurga terletak di langit, dan akan dihuni oleh orang-orang senantiasa berbuat baik.
3. Verbalis dan ritualis
Dari kenyataan yang tengah kita alami, ternyata kehidupan agama pada anak-anak sebagian besar tumbuh secara verbal. Mereka mulai menghafal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari amaliah yang mereka lihat lalu laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntunan yang diajarkan kepada mereka. Latihan untuk mengikuti dan memahami ajaran-ajaran agama secara verbal dan ritual memang lebih mudah dilakukan di masa kanak-kanak ketimbang usia dewasa.
4. Eksperimentasi, inisiatif, dan spontanitas
Ketiga ciri tersebut lahir bersamaan dengan dunia anak yang cepat meluas melampaui lingkaran keluarga. Usia 4 hingga 6 tahun merupakan umur kritis di mana anak sudah berkembang bersama lingkungan sekitar yang lebih luas dan ramai. Ungkapan-ungkapan ataupun kegiatan yang dilakukan bersifat spontan dan pengambilan inisiatif mulai dilakukan.
5. Imitatif
Dalam kehidupan sehari-hari, tindak keagamaan yang dilakukan anak-anak pada dasarnya diperoleh dari meniru. Seperti cara menunaikan ibadah sholat, mengaji, berdoa, bersholawat, berdzikir mereka lakukan sebagaimana apa yang telah mereka lihat.
6. Rasa heran atau kagum (numinous)
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, maka rasa kagum anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum pada apa yang tampak saja, rasa kagum tersebut mereka salurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub dan heran.
Menurut Rudolf Otto, kekaguman tersebut berasal dari “ The Wholly Others (yang sama sekali lain dari yang lain)”. Dalam ajaran agama Islam rasa kagum itu muncul karena manusia mengenal, memahami, dan menghayati sifat-sifat Tuhan yang maha baik dan maha sempurna seperti yang terhimpun di dalam Asma’ul Husna yang berjumlah 99 sifat.
Sedangkan alur pembentukan pengetahuan keagamaan anak tersebut terjadi dalam enam tahap, sebagai berikut:
1. Fitrah yang merupakan format khusus penciptaan manusia. Meskipun awalnya tidak mendalam, tetapi menjadi model dan modal yang berharga bagi perkembangan keberagamaan anak.
2. Pengetahuan imajinatif yang membuat anak penuh khayalan-khayalan. Imajinasi ini menjadikan anak manafsirkan secara sendiri akan berbagai informasi yang diterimanya selama ini dari lingkungan sekitarnya.
3. Pencarian dialektik yang dilakukan dengan melemparkan berbagai pertanyaan dan menanggapi secara spontanitas berbagai jawaban yang diberikan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak.
4. Pencarian maknawiyah yang diindikasikan dengan perilaku religius dan ritual-ritual yang fantastis, penuh eksperimentasi, inisiatif, dan imitative. Pencarian maknawiyah ini memberikan peran penting untuk membentuk sikap dan pandangan anak terhadap agama, karena hal ini berhubungan secara langsung dengan pengalaman dirinya sendiri saat memasuki ranah keberagamaan dengan berbagai ajaran dan ritual-ritualnya.
5. Internalisasi pengetahuan ke dalam pikiran dan benak anak sehingga menjadi bagian dari kehidupan dan keyakinannya. Ini bermanfaat untuk memberikan respon terhadap informasi-informasi baru. Respon ini bisa lahir dalam bentuk kompromi, complaince, atau juga konfrontatif.
6. Keyakinan yang dipegang teguh. Prinsip ini juga berbeda pada tiap anak yang secara sederhana dapat digolongkan kepada dua yaitu keyakinan yang bersifat statis dan keyakinan yang bersifat dinamis. Keyakinan yang statis berarti adalah keyakinan yang tidak berkembang dan sulit menerima informasi baru yang menggugat keyakinannya. Sedangkan keyakinan dinamis merupakan keyakinan yang penuh dengan kreatifitas, selektifitas, dan analisis kritis terhadap informasi-informasi baru yang diterimanya.

C. Pendidikan Agama Pada Anak
Perkembangan agama pada anak-anak terjadi melalui pengalaman hidup sejak kecil di dalam keluarga, sekolah usia dini dan di lingkungan masyarakat sekitar. Semakin banyak seorang anak dipengaruhi kehidupan beragama, maka akan semakin baik sikap, tindakan, kelakuan dan cara yang dilakukan. Adapun cara-cara untuk menjadikan anak yang beragama dengan baik adalah sebagai berikut;
1. Pembentukan kepribadian anak
Kegiatan tersebut dapat dilakukan di lingkungan formal, non formal, dan in formal sesuai masanya. Pembentukan kepribadian pada anak dapat dilakukan melalui contoh dan suri tauladan yang terdapat di lingkungan sekitar, kisah-kisah inspiratif, film, dan lagu-lagu bernuansa keagamaan.
2. Pembiasaan pendidikan beragama pada anak
Hendaknya perhatian terhadap pembiasaan dalam mempraktekkan ajaran-ajaran agama juga diperhatikan oleh orangtua dan lingkungan terdekat. Karena pada masa anak-anak pembelajaran agama tak cukup hanya sekadar melalui nasehat-nasehat dan pelajaran.

D. Peran Serta Orangtua Dalam Perkembangan Keagamaan Pada Anak
Orangtua merupakan pusat kehidupan jasmani dan rohani bagi seorang anak. Hal tersebut disebabkan orangtua adalah lingkungan pendidikan dan perkembangan awal bagi kehidupan seorang manusia. Intensitas kedekatan seorang anak melebihi kedekatannya terhadap siapapun. Untuk itu bimbingan, perhatian, dan kasih sayang orangtua amat sangat dibutuhkan di masa kanak-kanak seorang manusia. Pada masa tersebut juga seorang manusia merasa bahwa hanya orangtua sajalah yang dapat menjaga, melindungi serta menyayangi mereka dengan setulus hati.
Melalui kesempatan tersebut pulalah, pengajaran agama dapat dilakukan dengan lebih mudah karena tidak lagi memerlukan pendekatan batin. Hal tersebut juga akan memicu pemahaman seorang anak dalam mempelajari keyakinan yang ia anut.

E. Fase Perkembangan Jiwa Agama Pada Anak Menuju Insan Kamil.
Dalam hal yang berkaitan dengan ketaatan dan kepatuhan seseorang terhadap suatu sitem nilai, termasuk nilai-nilai keagamaan. L. Kohlberg secara teoritis mengemukakan, bahwa dalam mengikuti tata nilai agar menjadi insan kamil seseorang itu melalui 6 stadium atau tingkatan, yaitu;
Stadium 1: Menurut setiap aturan untuk menghindari hukuman.
Stadium 2: Anak bersikap konformis untuk memperoleh hadiah agar dipandang sebagai orang yang baik.
Stadium 3: Anak bersifat konformis untuk menghindari celaan orang lain agar disenangi.
Stadium 4: anak bersifat konformis untuk menghindari hukuman yang diberikan bagi beberapa tingkah laku dalam kehidupan bersama.
Stadium 5: konformitas anak sekarang dilakukan karena membutuhkan kehidupan bersama yang diatur.
Stadium 5: melakukan konformitas tidak karena perintah atau norma dari luar, melainkan karena keyakinan sendiri untuk melakukannya.
Dari teori tersebut dapat dipahami, jika ada seorang anak taat beragama baru sampai pada taraf karena orangtua, guru agama, ingin penghargaan, dipuji, dan lain-lain. Tidk perlu terburu-buru untuk dimarahi atau dihina, tetapi sebaiknya dibimbing terus menerus agar anak tersebu sampai pada kesadaran sendiri dalam melakukan kegiatan keagamaan.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat penulis rangkum dari makalah sederhana yang telah disusun adalah bahwasanya setiap manusia memiliki fitrah untuk ber-Tuhan sejak lahir. Atau biasa dikenal dengan istilah potensi laten yang fitri, maksud fitri disini adalah mengakui ke-Esa-an Allah SWT sebagai satu-satunya pencipta. Namun, kedua orangtua dan lingkungan sekitarlah yang menjadi faktor pembentuk agama yang kelak mereka anut.
Selain itu, di dalam beragama anak-anak juga mengalami beberapa fase perkembangan sesuai dengan tingkat pengalaman, intelektualitas, dan pengaruh lingkungan yang ada disekitarnya. Di dalam beragama, anak-anak amat sangat membutuhkan bimbingan dan pengajaran orang yang lebih dewasa agar mereka tidak terus menerus berada dalam keraguan dan kesangsian yang semakin besar.
Adapun untuk sifat-sifat atau ciri keberagamaan seorang anak dapat dinilai melalui beberapa karakteristik yang setiap cirinya memiliki keunikan tersendiri. Melalui sifat dan ciri tersebut, orangtua dan dewasa lainnya dapat mengidentifikasi sikap keberagamaan yang tengah dialami anak.
2. Saran
Dengan hadirnya makalah ini dihadapan pembaca, semoga dapat memberi manfaat untuk kepentingan pengembangan dan perluasan ilmu yang dimiliki. Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan isi dari makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Singgalang Posted

 

IMPOR APA YANG DIPERLUKAN SEBENARNYA?

 

Secara harfiah, pengertian impor adalah mendatangkan barang dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sebagai Negara yang tengah berada dalam tahap berkembang, Indonesia merupakan Negara peng-impor bahan kebutuhan terbesar di dunia. Padahal nyatanya, barang-barang yang diimpor dari luar negeri tersebut kebanyakan bahan mentahnya berasal dari sumber daya yang terdapat di Indonesia. Lantas apa yang salah dari bangsa ini? Rupanya, bangsa ini tak mampu mengolah sendiri setiap sumber daya yang dimilkinya. Melainkan menjual dengan harga murah setiap sumber dayanya kepada Negara lain, tak peduli itu sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang beragam.

Akibat transaksi impor yang terus menerus dilakukan bangsa ini, Indonesia telah tercatat menjadi ladang empuk bagi perusahaan-perusahaan besar di dunia untuk melakukan investasi. Investasi yang dilakukan melalui cara yang beragam tentunya. Contohnya dengan cara membangun perusahaan-perusahaan yang nantinya merekrut ribuan, bahkan jutaan penduduk negeri ini untuk menjadi karyawan disana dan kenyataannya nanti akan menjadi budak mereka. Tak hanya itu mengambil alih lahan tempat tinggal rakyat juga harus dilakukan untuk pembangunan perusahaan tersebut, serta menghabiskan sedikit demi sedikit kekayaan yang dimilki alam ini. Tragis memang, mereka datang kemari untuk menghancurkan satu persatu sumber daya yang dimiliki Indonesia, mulai dari sumber daya manusia hingga sumber daya alam, eksploitasi kekayaan alam, hingga mengacaukan bangsa ini dengan berbagai cara.

Namun, setelah melakukan impor berbagai macam barang dalam pemenuhan kebutuhan di bangsa ini, pada kenyataannya apakah membawa pengaruh besar bagi perbaikan aspek-aspek sosial dan kemanusiaan yang telah berlarut mengalami kebobrokan? Bukankah tidak? Lalu untuk apa impor barang pemenuhan kebutuhan jika tidak memberikan umpan balik bagi setiap penggunanya. Bukankah sama saja dengan melakukan hal yang sia-sia?. Maksud umpan balik disini adalah kontribusi yang mengandung perbaikan bagi bangsa dan setiap aspek yang mengalami kecacatan selama ini. Justru hal yang paling santer terjadi adalah hal-hal berbau negatif yang sedemikian sering terjadi dilakukan oleh para pengguna tetap barang-barang impor tersebut. Mulai barang-barang yang tergolong kategori impor, pakaian yang serba impor, hingga sayuran dan buahan impor yang padahal Indonesialah yang merupakan pusat terbesar barang-barang tersebut.

Berdasarkan kenyataan saat ini, apakah kita tak butuh barang-barang berupa harga diri, rasa malu, identitas bangsa yang sudah mulai hilang, label Negara berintegritas tinggi yang sudah tak tahu lagi kemana rimbanya, hingga semangat perbaikan untuk diimpor? Seharusnya kita harus lebih berhutang banyak kepada World Bank di Negara adidaya Amerika untuk mengimpor barang-barang yang sebenarnya lebih dibutuhkan bangsa saat ini ketimbang benda lain.

Padahal, untuk melakukan peng-imporan untuk setiap aspek perbaikan tersebut tidaklah mengeluarkan biaya sedikitpun, hanya dengan cara memahami dan mempelajari setiap pembelajaran yang seharusnya kita contoh. Coba perhatikan, setiap bidang pendukung yang seharusnya menjadi unsur yang banyak melakukan kontribusi untuk perbaikan bangsa ini, yang disayangkan dalam kenyataannya melakukan kecacatan yang menjadikan bangsa ini semakin tak diperdulikan oleh bangsa lain.

Apakah bangsa ini memang sudah tak ingin lagi dibenahi jika hanya mengedepankan pengimporan barang-barang kebutuhan dari Luar Negeri saja, tanpa berniat mengimpor satu persatu pembelajaran berharga dari bangsa-bangsa lain. Alangkah ruginya kita jika memang hal itu yang tengah terjadi, sulit menyatakan kesalahan sendiri sehingga enggan melakukan perbaikan. Semoga saja, satu persatu bagian yang sudah mengalami kebobrokan dapat diperbaiki dengan cara meng-impor secara gratis aspek-aspek pembelajaran yang dilakukan bangsa lain demi perbaikan Indonesia.

Padang Ekspress

SISI HITAM PERWAJAHAN INDONESIA

 

Beberapa waktu terakhir, kabar tak sedap kerap memenuhi kolom siaran media massa nasional maupun swasta Indonesia. Baik itu berasal dari televisi, surat kabar, majalah, dan radio-radio yang tersebar di setiap penjuru negeri. Kabar tak sedap yang berasal dari beragam jenis kejahatan bertengger manis di kolom-kolom media. Kini, jutaan orang Indonesia tengah menuntut keadilan dan peraturan tegas dari mereka-mereka yang disebut pemimpin untuk mengatasi krisis karakter bangsa. Kondisi bangsa Indonesia saat ini sangat miris, negeri ini ibarat termakan sumpah serapah yang entah dari siapa.

Fenomena aneh semakin tak terbendung terjadi di tanah anggun nan kaya ini. Kondisi kesehatan anak bangsa adalah penyebabnya. Bukan sekadar kesehatan tubuh atau fisik yang semakin memburuk, kesehatan jiwa dan hati nurani sudah sangat kritis dan turun drastis dibanding kondisi kesehatan masa moneter dahulu. Jumlah para pesakit jiwa di negeri ini jauh lebih tinggi dibanding para pesakit fisik. Rumahsakit tak lagi dipenuhi para pesakit tubuh, melainkan dipenuhi para pesakit pikiran yang mati-matian sibuk memikirkan “dengan apa melunasi tunggakan rumah sakit?”. Negeri ini menampung lebih dari 1,5 juta orang sakit.

Peradaban kumuh yang tengah dinikmati masyarakat Indonesia rupanya menjadi sumber penyakit sebagian besar populasi rakyat kita. Harga diri bangsa ini semakin meringsut turun berada dibawah garis normal. Wajar saja, kapitalisme terus berjalan halus tak berkesudahan. Dan hasil akhir dari kekejamannya adalah garis pemisah antara si miskin dan si kaya yang semakin menganga. Kisruh ekonomi negeri ini semakin tak terobati, ditambah dengan melejitnya harga BBM yang semakin mengundang nyeri. Sepertinya tak ada yang mampu menahan arus kebiadaban warisan leluhur orang Barat tersebut. Entah memang karena tak mampu, tak tahu, tak ingin, atau bahkan pura-pura tak tahu dan berpura-pura tidak mampu? Tak ada yang bisa memastikan sebabnya.

Selain kekacauan ekonomi yang semakin membelenggu, Indonesia lagi-lagi dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih memalukan. Masalah yang akhir-akhir ini menyebabkan para komisioner RI duduk rapi di meja kerja masing-masing, bergegas menyiapkan amunisi agar kehebohan tak terjadi. Khawatir dan takut jika masyarakat menuntut janji-janji yang berbau muslihat mereka terbongkar. Ditambah lagi masalah fatalnya, mereka tak ada jawaban untuk menanggapi persoalan.

Menurut hemat penulis, masalah ini jauh lebih menyebabkan harkat martabat bangsa ini semakin terpuruk. Lihat saja, akhir-akhir ini berita-berita aneh kisruh seksualitas santer terdengar. Mulai dari kebiadaban para guru dan karyawan di sekolah bertarif mahal ibukota. Dilanjutkan dengan terbongkarnya kelakuan aneh Emon dari tanah Jawa, hingga arisan tak beradab yang dilakukan oleh para pelajar sekolah menengah di salah satu kawasan Sumatra Barat. Negeri ini hampir pupus

Kejadian-kejadian itu hanyalah segelintir kisah nyata dari ribuan fakta yang selalu ditutup-tutupi. Lantas, siapa yang salah dan langkah seperti apa yang harus dilakukan?. Mempertegas peraturan atau merehabilitasi para pelanggar aturan? Jawaban kita sebagai rakyat biasa takkan didengar para pemimpin. Dan jika pun mereka dengar, respon yang turun mesti menunggu waktu yang cukup lama. Atau bahkan tak digubris sama sekali.

Perkara yang mereka tahu kini hanyalah bagaimana program yang pernah mereka rencanakan berjalan, dan satu hal lagi yang selalu terbayang hampir di setiap benak mereka, “ kapan modal saya bisa kembali?”. Itu-itu saja problema yang terjadi ditengah krisis karakter bangsa. Sejak dahulu, masih belum berlalu dan terlewati. Sungguh pahit kondisi yang dialami bangsa ini, kaula muda kelas bawah hanya bisa meratapi dan menanti keadilan konstitusi. Hanya karena tak ada penghargaan dari mereka yang selalu menganggap diri lebih tua, lebih tahu, dan lebih pantas. Aneh.

Lantas kapan masa tertepat para jiwa jernih berkumpul untuk melakukan petisi demi pengabdian kepada negeri?. Apakah menunggu para tetua mati?. Jika mereka mati lebih dahulu, darimana pemuda mendapat pelajaran, dari apa kaula muda mafhum dengan problema yang dihadapi negeri?. Belajar sendirikah solusinya?.  Seperti kisruh otodidak yang banyak berujung malapetaka. Bisa-bisa dicemooh sok tahu. tapi itulah peristiwa yang tengah bergulir di negeri kita. Indonesia.

Singgalang Minggu

STOP SENTIMEN

Tak habis-habisnya kisah perjalanan tentang rasa sentiment yang tinggi, yaitu “rasa takut untuk disaingi” dibahas. Sejak kecil benih-benih perilaku tercela tersebut sudah tertanam dan terus dikembangbiakkan dalam kehidupan kita. Bagaimana tidak, dalam menyemangati buah hati agar rajin belajar sehingga berprestasi tinggi, para orangtua tak sadar sedang menggunakan bahasa yang bermakna perintah untuk selalu mengalahkan lawan.

Contohnya, “nak, rajin-rajin belajar ya. Kamu harus lebih pintar dari tio, kalahkan dia. Masak dia terus yang juara ”. Banyak orangtua yang tak menyadari maksud kalimat yang kerap kali disampaikan kepada anak. Jika saja dalam waktu satu bulan orangtua rutin menyampaikan kalimat tersebut sebanyak lima kali kepada si anak, maka adalah jaminan bahwa anak akan tumbuh menjadi seorang yang penuh ambisi dan menjadi pemenang dengan cara apa saja. Disinilah lahir benih-benih pemilik rasa sentiment yang tinggi. Mereka jadi tak segan melakukan apa saja, misalnya mencontek kepada teman agar mereka juga dianggap pintar. Termasuk berbohong, memfitnah, mengadu domba dan perilaku buruk lainnya adalah hal biasa.

Maka adalah persoalan besar jika kasus tersebut tak disadari sejak dini. Perhatikan, banyak anak-anak yang tumbuh tanpa rasa percaya diri pada akhirnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena mereka mengaku tak mampu mengikuti , jerih. Kawan sepermainan mereka lebih hebat, lebih kaya, lebih pintar, lebih gaul dan jelas mereka tersisihkan. Lagi-lagi kalimat orangtua yang kerap mereka dengar menjadi momoknya. Mereka terkesan dipaksa untuk mengikuti orang lain dan tak diperkenankan untuk menjadi diri sejak dini.

Selain itu, rasa sentiment yang tinggi juga menimbulkan dampak yang lebih besar dan sulit untuk diatasi. Misalnya, memenuhi setiap keinginan yang dimiliki, berusaha mempunyai segala sesuatu yang dimiliki atau bahkan bisa jadi belum dimiliki oleh orang lain dengan cara apa saja. Terobos sana-sini, lupa hak dan yang batil serta jenuh dengan konsep halal-haram yang diketahui selama ini. Lupa yang mana milik sendiri dan oranglain, masih banyak lagi. Tak hanya itu bermewah-mewahan dan pamer sana sini atas apa yang dimiliki juga jelas menjadi tujuan akhir dari sikap tersebut. Budaya konsumtif dan hedonis sudah jelas merasuk di jiwa-jiwa manusia seperti ini. Menghambur-hamburkan harta tanpa perhitungan jangka panjang yang bisa jadi dapat membuat mereka dan keegoisannya terjengkang. Rasa syukur yang seharusnya ditanamkan dalam hati, tersapu habis oleh kekufuran yang menjadi-jadi.

Tak sampai disana persoalan mengenai sikap sentimentil yang dimiliki, permusuhan akibat persaingan yang menjadi –jadi pada akhirnya semakin tak berbatas. Cekcok yang semakin tak teratasi, rusuh sana-sini bahkan aksi bunuh membunuh pun sama sekali bukan lagi menjadi hal yang ngeri. Nurani tak lagi berbunyi, bahkan tak bergerak sama sekali.

Sampailah pada akhirnya di kehidupan yang tak lagi bermakna, justru hanya meninggalkan dosa. Tak bermanfaat sama sekali, merugi saja yang ditemui. Untuk itu, belum terlambat rasanya untuk berbenah diri. Sebelum semua berakhir dan tak lagi dapat diperbaiki. Masih banyak langkah dan jalan untuk kembali, meluruskan niat yang sempat menyimpang. Rendah hati adalah kunci keselamatan yang tak banyak diketahui, pula sama dengan sikap menerima kelebihan orang lain dan menyadari kekurangan diri. Bila menerima kekurangan diri pada akhirnya dapat membuat kita semakin malas, pemahaman tentang konsep tersebut harus menjadi bahan pelajaran wajib di kehidupan.

Sejarah Filsafat Kontemporer

 

BAB I

PEMBAHASAN

  1. Pragmatisme
  2. Terminologi pragmatisme

Pragmatisme berasal dari kata “pragma” (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

Pragmatisme berpandangan bahwa segala sesuatu yang mengandung kebenaran adalah jika segala sesuatu memiliki fungsi dan manfaat bagi kehidupan. Jika tidak memiliki manfaat bagi kehidupan, maka bukanlah sebuah kebenaran. Misalnya dalam hal beragama yang dianggap sebagai sebuah kebenaran, jika agama memberikan kebahagiaan. Misalnya saja menjadi dosen adalah kebenaran jika memperoleh kenikmatan intelektual. Mendapatkan gaji atau apapun yang bernilai kualitatif dan kuantitatif.

Adapun dasar dari pemikiran pragmatisme adalah logika pengamatan. Dimana, apa yang ditampilkan merupakan fakta-fakta yang berasal dari individu saja, bersifat kongkret dan terpisah. Gaya pemikiran pragmatisme berusaha untuk menengahi tradisi empiris dan tradisi idealis.

  1. Tokoh pragmatisme
  2. William James (1842-1910 M)

James lahir di New York City pada tahun 1842 M, putra dari Henry James, Sr, seorang yang terkenal memiliki kebudayaan yang tinggi, dan pemikir yang kreatif.

Pandangan filsafatnya ialah menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri lepas dari akal yang dapat mengenal. Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena dalam praktiknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Nilai konsep atau pertimbangan kita, bergantung pada akibatnya.

Menurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan. Ia juga berpendapat bahwa pragmatisme dapat tetap bersifat religius seperti rasionalisme.

James membawakan pragmatisme. Isme ini lalu diturunkan kepada Dewey yang mempraktikkannya dalam pendidikan.

  1. John Dewey (1859 M)

Sebagai pengikut filsafat pragmatisme. John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis. Menurut John Dewey, pengalaman adalah pokok dari sebuah filsafat.

Menurutnya, tak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berpikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berpikir merupakan alat untuk bertindak. Secara umum, pragmatisme berarti hanya idea yang dapt dipraktikkan yang benar dan berguna.

 

  1. Fenomenologi
  2. Terminologi fenomenologi

Kata “fenomenologi” berasal dari kata Yunani “fenomenon” yang artinya gejala, yaitu suatu hal yang tidak nyata dan berlaku keseluruhan. Kebalikan dari kenyataan. Juga dapat diartikan sebagai ungkapkan kejadian yang dapat diamati lewat indera manusia. Misalnya, penyakit flu gejalanya berupa batuk, pilek. Dan yang lebih penting dalam filsafat fenomenologi sebagai sumber berpikir yang kritis. Pemikiran yang sedemikian besar pengaruhnya di Eropa dan Amerika antara tahun 1920 hingga tahun 1945 dalam bidang ilmu pengetahuan positif.

Sebab kemunculan terminologi fenomenologis akibat reaksi metodologis positivisme yang diperkenalkan oleh Comte. Positivisme mengandalkan seperangkat fakta sosial yang bersifat objektif atas setiap yang terlihat. Sehingga, melihat sebuah fenomena dari kulit-kulitnya saja, dan tidak mampu memehami gejala yang sebenarnya. Pada filsafat fenomenologis, peneliti hanya mencari nilai asli terhadap kajiannya. Mengkaji agama yang mungkin akan menunjukkan ekspresi otentik tanpa adanya intervensi nilai-nilai yang terdapat pada personal.

  1. Tokoh fenomenologi

Tokoh fenomenologi adalah Edmund Husserl (1859-1938 M). Ia adalah pendiri fenomenologi yang berpendapat bahwa kebenaran berlaku untuk semua orang, dan manusia dapat mencapainya. Adapun inti pemikiran fenomenologi menurut Husserl adalah bahwa untuk menemukan pemikiran yang benar, seseorang harus kembali pada “benda-benda” sendiri. Dalam bentuk slogan Zu den sactien (to the things).

Akan tetapi, “benda-benda” tidaklah secara langsung memperlihatkan hakikat dirinya. Apa yang kita temui pada “benda-benda” itu dalam pemikiran dan penglihatan biasa bukanlah hakikat. Hakikat benda itu ada dibalik yang kelihatan itu (tersirat). Karena pemikiran pertama (first look) tidak membuka tabir yang menutupi hakikat, untuk itu diperlukan pemikiran kedua (second look). Untuk itu terdapat alat yang dipakai untuk menemukan hakikat pada pemikiran kedua yakni intuisi.

Dalam usaha melihat hakikat dengan intuisi, Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi. Yang dimaksudkan dengan reduksi dalam hal ini adalah penundaan segala pengetahuan yang ada tentang objek sebelum dilakukan pengamatan intuitif. Namun, yang dimaksud ialah “melupakan pengertian-pengertian tentang objek secara langsung dengan intuisi tanpa bantuan pengertian-pengertian yang ada sebelumnya. Reduksi merupakan salah satu prinsip yang mendasari sikap fenomenologis.

Ada tiga reduksi yang ditempuh untuk mencapai realitas fenomen dalam pendekatan fenomenologi, yaitu:

  1. Reduksi fenomenologis,
  2. Reduksi eidetis, dan
  3. Reduksi fenomenologi-transdental.
  4. Reduksi fenomenologis

Fenomen seperti disebut di atas adalah segala sesuatu yang menampakkan diri. Dalam praktik hidup sehari-hari, kita tidak memerhatikan penampakan itu. Apa yang kita lihat secara spontan sudah cukup meyakinkan kita bahwa objek yang kita lihat itu adalah real atau nyata. Akan tetapi, karena yang dituju oleh fenomenologi adalah realitas dalam arti yang ada diluar dirinya, dan hanya dapat dicapai dengan “mengalami” secara intuitif yakni meninggalkan segala subjektivitas.

Reduksi pertama ini merupakan “pembersihan diri” dari segala subjektivitas yang dapat mengganggu perjalanan mencapai realitas.

  1. Reduksi eidetis dan fenomenologi transdental

Eidetis berasal dari kata “eidos” yaitu intisari. Reduksi eidetis ialah penyaringan atau penempatan segala hal yang bukan intisari atau realitas fenomen. Hasil reduksi kedua ini adalah penilikan realitas. Dengan reduksi eidetis, semua segi, aspek, dan profil dalam fenomena yang hany kebetulan dikesampingkan. Karena, aspek dan profil tidak pernah menggambarkan objek secra utuh. Sehingga setiap objek adalah kompleks, mengandung aspek dan profil yang tak terhingga.

Reduksi eidetis ini menunjukkan bahwa dalam fenomenologi, kriteria koheresi berlaku. Artinya, pengamatan-pengamatan yang beruntun terhadap objek harus disatukan. Pada umunya, pengikut-pengikutnya yang menyatujui idealisme Husserl, hanya sepaham dengan Husserl pada tahap awal dari perkembangan pemikirannya. Pendekatan fenomenologis yang diambil oleh pengikut-pengikutnya tidak termasuk reduksi terakhir yang menimbulkan idealisme transendental.

Pendekatan fenomenologi ini sangat besar pengaruhnya di dalam filsafat belakangan ini. Bahkan, pendekatan ini digunakan dalam ilmu pengetahuan,seperti ilmu-ilmu sosial, sejarah politik, kebudayaan dan agama, serta matematika.[1]

 

  1. Eksistensialisme
  2. Terminologi eksistensialisme

Eksistensialisme berasal dari kata “eksisten’dari kata dasar “existency” yaitu “exist” adalah bahasa latin yang artinya: “ex” keluar dan “sistare” artinya berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri keluar dari diri sendiri. (Ahmad Tafsir, 2006 : 218)

Dalam membuat definisi eksistensialisme, kaum eksestianlis tidak sama. Namun demikian, ada sesuatu yang disepakati oleh merek, yaitu sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Eksistensialisme berpusat pada indivdu yang akan bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas, tanpa berupaya untuk berpikir secara mendalam untuk menentukan antara yang benar dan yang salah. Padahal kebenaran lebih bersifat relatif.

Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada didunia; sapi dan pohon juga berada di dunia. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu: manusia menyadari dirinya berada di dunia. Menusia menghadapi dunia, mengerti apa yang dihadapinya. Manusia mengerti guna pohon, sapi, batu, dan salah satunya manusia mengerti bahwa hidupnya punya arti. Apa maksudnya? Maksudnya adalah bahwa manusia adalah subjek. Subjek itu yang menyadari, sedangkan yang menjadi objek adalah barang-barang yang disadari oleh subjek.

  1. Tokoh Eksistensialisme
  2. Martin heidegger (1905 M)

Menurut martin heidegger, keberadaan hanya akan dapat dijawab melalui jalan ontologi, artinya jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dalam hubungan itu. Metodenya adalah metodologi fenomenologis. Jadi, yang penting adalah menemukan arti keberadaaan itu.

Menurut heidegger, manusia tidak menciptakan dirinya, tapi ia dilemparkan ke dalam keberadaan. Walaupun keberadaan manusia tidak mengadakan sendiri, bahkan merupakan keberadaan yang terlempar, manusia tetap harus bertanggung jawab terhadap keberadaannya itu. Manusia harus merealisasikan kemungkinan-kemungkinannya, tapi dalam kenyataannya manusia tidak menguasai dirinya sendiri.

Kepekaan diungkapkan dalam suasana batin di dalam perasaan dan emosi manusia. Di antara perasaan itu yang terpenting ialah rasa cemas (angst). Yang menyebabkan kecemasan ini adalah perasaan yang tiba-tiba merasa sendirian, dikepung oleh kekosongan hidup, dimana kita merasa bahwa seluruh hidup kita tiada berarti. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidak sedang bereksistensi yang sebenarnya. Akan tetapi, manusia memiliki kemungkinan untuk keluar dari eksistensi yang tidak sebenarnya itu, lalu keluar dari belenggu pendapat orang banyak mengenai dirinya dan menemukan jati dirinya sendiri. Manusia yang tidak memiliki eksistensi yang sebenarnya akan menghadapi kehidupan yang semu. Sebab, ia tidak menyatukan hidupnay sebagai satu kesatuan.

  1. Jean Paul Sartre

Menurut Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Pandangan ini amat janggal. Sebab, biasanya harus ada esensinya dulu sebelum adanya keberadaan. Menurut Sartre, filsafat eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia. Dengan kata lain, filsafat ini menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral pembahasannya. Cara itu hanya khusus ada pada manusia karna manusialah yang bereksistensi.

  1. Gabriel Marcel

Dalam filsafatnya, ia menyatakan bahwa manusia tidak hidup sendirian, melainkan bersama-sama dengan orang lain. Akan tetapi, manusia memiliki kebebasan yang bersifat otonom (berdiri sendiri). Dalam hal itu, ia selalu dalam situasi yang ditentukan oleh kejasmaniannya.

Manusia bukanlah makhluk yang statis, sebab ia senantiasa berproses. Dan mereka beranggapan bahwa perjalanan manusia ternyata akan berakhir pada kematian.

  1. Postmodernisme
  2. Terminologi postmodernisme

Secara teoritis, postmo merupakan subjek, dan modernisme adalah objeknya. Postmodernisme, berasal dari bahasa Inggris yang artinya faham (isme), yang berkembang setelah modern. paham ini muncul sebagai koreksi terhadap modernisme yang berkembang. Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1930 pada bidang seni oleh Federico de Onis untuk menunjukkan reaksi dari moderninsme. Kemudian pada bidang Sejarah oleh Toyn Bee dalam bukunya Study of History pada tahun 1947. Setelah itu berkembanga dalam bidang-bidang lain dan mengusung kritik atas modernisme pada bidang-bidangnya sendiri-sendiri.

postmodernisme bukalah paham tunggal sebuah teori, namun justru menghargai setiap teori-teori yang berkembang dan sulit untuk dicari titik temu yang tunggal. postmodernisme bergerak pada bidang tatasosial, produk teknologi, informasi, dan globalisasi yang berkembang.

  1. Tokoh Postmodernisme
  2. Charles Sanders Peirce

Beliau lahir di Cambridge, Massachusetts, pada 10 september 1893. Beliau adalah seorang filosof, ahli logika, semiotika, dan ilmuwan Amerika Serikat. Peirce dididik sebagai seorang kimiawan dan bekerja sebagai ilmuwan selama 30 tahun. Tetapi, sebagian besar sumbangan pemikirannya berada di ranah logika, matematika, filsafat, dan semiotika dan penemuannya mengenai pragmatisme masih dihormati hingga kini. Pada dasarnya, peirce tidak banyak mempermasalahkan estetika dalam tulisan-tulisannya, akan tetapi teori-teorinya mengenai tanda menjadi dasar pembicaraan estetika generasi berikutnya.

BAB II

PENUTUP

  1. kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat kami rangkum adalah, bahwasanya selama masa perkembangan filsafat klasik belum ditemukan spesifikasi jenis filsafat yang berkembang pada masa itu. Pada masa ini juga, para filosof masih sangat bebas untuk berpikir tentang segala hal yang dilihat. sedangkan di masa filsafat kontemporer, sudah ditemukan bagian-bagian atau jenis-jenis dari hasil pemikiran filsafat.

Pada masa kontemporer, para helenisme juga sudah mampu untuk menyampaikan hasil pemikiran-pemikiran yang berbeda kepada khalayak ramai. Meskipun pada masa partistik nantinya akan ada garis pemisah bagi mereka yang diperkenankan untuk berfilsafat dan bagi golongan yang tidak diizinkan untuk berfilsafat.

 

 

[1] Atang Abdul Hakim, Filsafat umum, Bandung. Pustaka setia: 2008. h.319-405