SISI HITAM PERWAJAHAN INDONESIA
Beberapa waktu terakhir, kabar tak sedap kerap memenuhi kolom siaran media massa nasional maupun swasta Indonesia. Baik itu berasal dari televisi, surat kabar, majalah, dan radio-radio yang tersebar di setiap penjuru negeri. Kabar tak sedap yang berasal dari beragam jenis kejahatan bertengger manis di kolom-kolom media. Kini, jutaan orang Indonesia tengah menuntut keadilan dan peraturan tegas dari mereka-mereka yang disebut pemimpin untuk mengatasi krisis karakter bangsa. Kondisi bangsa Indonesia saat ini sangat miris, negeri ini ibarat termakan sumpah serapah yang entah dari siapa.
Fenomena aneh semakin tak terbendung terjadi di tanah anggun nan kaya ini. Kondisi kesehatan anak bangsa adalah penyebabnya. Bukan sekadar kesehatan tubuh atau fisik yang semakin memburuk, kesehatan jiwa dan hati nurani sudah sangat kritis dan turun drastis dibanding kondisi kesehatan masa moneter dahulu. Jumlah para pesakit jiwa di negeri ini jauh lebih tinggi dibanding para pesakit fisik. Rumahsakit tak lagi dipenuhi para pesakit tubuh, melainkan dipenuhi para pesakit pikiran yang mati-matian sibuk memikirkan “dengan apa melunasi tunggakan rumah sakit?”. Negeri ini menampung lebih dari 1,5 juta orang sakit.
Peradaban kumuh yang tengah dinikmati masyarakat Indonesia rupanya menjadi sumber penyakit sebagian besar populasi rakyat kita. Harga diri bangsa ini semakin meringsut turun berada dibawah garis normal. Wajar saja, kapitalisme terus berjalan halus tak berkesudahan. Dan hasil akhir dari kekejamannya adalah garis pemisah antara si miskin dan si kaya yang semakin menganga. Kisruh ekonomi negeri ini semakin tak terobati, ditambah dengan melejitnya harga BBM yang semakin mengundang nyeri. Sepertinya tak ada yang mampu menahan arus kebiadaban warisan leluhur orang Barat tersebut. Entah memang karena tak mampu, tak tahu, tak ingin, atau bahkan pura-pura tak tahu dan berpura-pura tidak mampu? Tak ada yang bisa memastikan sebabnya.
Selain kekacauan ekonomi yang semakin membelenggu, Indonesia lagi-lagi dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih memalukan. Masalah yang akhir-akhir ini menyebabkan para komisioner RI duduk rapi di meja kerja masing-masing, bergegas menyiapkan amunisi agar kehebohan tak terjadi. Khawatir dan takut jika masyarakat menuntut janji-janji yang berbau muslihat mereka terbongkar. Ditambah lagi masalah fatalnya, mereka tak ada jawaban untuk menanggapi persoalan.
Menurut hemat penulis, masalah ini jauh lebih menyebabkan harkat martabat bangsa ini semakin terpuruk. Lihat saja, akhir-akhir ini berita-berita aneh kisruh seksualitas santer terdengar. Mulai dari kebiadaban para guru dan karyawan di sekolah bertarif mahal ibukota. Dilanjutkan dengan terbongkarnya kelakuan aneh Emon dari tanah Jawa, hingga arisan tak beradab yang dilakukan oleh para pelajar sekolah menengah di salah satu kawasan Sumatra Barat. Negeri ini hampir pupus
Kejadian-kejadian itu hanyalah segelintir kisah nyata dari ribuan fakta yang selalu ditutup-tutupi. Lantas, siapa yang salah dan langkah seperti apa yang harus dilakukan?. Mempertegas peraturan atau merehabilitasi para pelanggar aturan? Jawaban kita sebagai rakyat biasa takkan didengar para pemimpin. Dan jika pun mereka dengar, respon yang turun mesti menunggu waktu yang cukup lama. Atau bahkan tak digubris sama sekali.
Perkara yang mereka tahu kini hanyalah bagaimana program yang pernah mereka rencanakan berjalan, dan satu hal lagi yang selalu terbayang hampir di setiap benak mereka, “ kapan modal saya bisa kembali?”. Itu-itu saja problema yang terjadi ditengah krisis karakter bangsa. Sejak dahulu, masih belum berlalu dan terlewati. Sungguh pahit kondisi yang dialami bangsa ini, kaula muda kelas bawah hanya bisa meratapi dan menanti keadilan konstitusi. Hanya karena tak ada penghargaan dari mereka yang selalu menganggap diri lebih tua, lebih tahu, dan lebih pantas. Aneh.
Lantas kapan masa tertepat para jiwa jernih berkumpul untuk melakukan petisi demi pengabdian kepada negeri?. Apakah menunggu para tetua mati?. Jika mereka mati lebih dahulu, darimana pemuda mendapat pelajaran, dari apa kaula muda mafhum dengan problema yang dihadapi negeri?. Belajar sendirikah solusinya?. Seperti kisruh otodidak yang banyak berujung malapetaka. Bisa-bisa dicemooh sok tahu. tapi itulah peristiwa yang tengah bergulir di negeri kita. Indonesia.