SI “OTAK UDANG”
“kemana si gendut tadi?” Kudengar sayup pertanyaan salah seorang teman kepada temanku yang lain. Aaah, aku tak peduli. Kupikir hanya ingin meminjam atau mungkin minta ditemani ke kampus. Kulanjutkan perjalanan menuju kantor, yaaa tempat dimana aku diberi kesempatan untuk bekerja parttime.
Tapi sayang, hati dan pikiranku kali ini tak bisa diajak kompromi. Entah kenapa mereka memaksa agar aku kembali lagi ke asrama. Padahal, sama sekali tak ada yang tertinggal. Kujinjing laptop dan beberapa perlengkapan lain. Kali ini, langkahku lebih tegas dan terkesan terburu-buru. Kupastikan mereka tak menceritakan kekuranganku. Aku cemas.
Dengan wajah penuh harap, kunaiki tangga asrama perlahan. Kusiasati agar derap langkahku tak terdengar siapapun. Ahaaa, dan akhirnya aku berhasil. Kurasa tak ada yang tahu aku kembali ke rumah keduaku itu. Kududuki tangga, kudengar riuhnya mereka menceritakanku. Berderu-deru kalimat hujaman yang menelantarkan hatiku. Kucermati rangkaian kalimat hinaan kepada fisik sekaligus potensiku. Dan itu yang membuatku tak tahan dan lantas menangis. Lagi-lagi aku lemah, sangat lemah.
Banyak kata cemooh Hana yang teruntai dari bibir manisnya untuk memojokkanku dihadapan teman lain. Hanya satu kata yang hingga saat ini tak bisa aku terima. Kudengar jelas, amat sangat jelas! ‘paja tu otak udang bana’. “meringkik hatiku mendengar kalimat hinaan kali ini”. Kata paja yang merupakan kata ganti untuk dirinya di bahasa minang terdengar sangat kasar untuk susunan kalimat yang digunakan.
Kulepas alas kakiku, kumasuki asrama tanpa salam. Dan kalian tahu apa yang terjadi? Hening, kegaduhan tak lagi terdengar tentu. Suasana mencekam akan segera tercipta! Lantas, satu persatu mereka yang kurasa sedari tadi berkumpul untuk menghina ketidakmampuanku mulai berdiri. Berusaha mengelak lalu pura-pura sibuk mengerjakan hal lain.
Kali ini, giliranku yang berpura-pura sibuk. Kuitari deretan ranjang tidur yang tersusun rapi. Kupura-purai diri sibuk mencari kertas-kertas disela tumpukan buku. Dan akhirnya, dengan mengumpulkan seluruh kesadaran dan kesabaran yang memang tak berbatas, kupecah hening dengan nada sangat santai menyampaikan informasi. “ukhty, nanti kita ada kelas dengan pak Umar. Jangan ada yang terlambat!”
Tak ada yang menyahuti, dan kurasa aku harus pergi dan menjauh kini. Tak sanggup. Aku takkan mampu bertahan di tempat yang saat ini kurasa seperti neraka. Satu persatu sudutnya membakar tubuh dan perasaanku.
Tak kuhiraukan raut wajah atau bahkan kode yang mereka gunakan untuk memahami kejadian itu. Kulangkahkan kaki perlahan, menghilang dari hadapan para bedebah itu. Kacau. Sepanjang perjalanan kuingat kembali apa saja kesalahan yang kulakukan sehingga aku dibegitukan. Entah apa yang membuat mereka begitu memojokkanku. Kalimat hinaan yang hingga saat ini takku terima adalah dikatai “otak udang”.
Kurasa, gelar otak udang yang mereka sematkan kepadaku hanya karena perolehan hasil semester atau IPK -dalam dunia kampus yang kuraih berkisar di angka 2 koma. Aku sadar sekali, hanya nilai itu yang mampu aku raih melalui kerja keras dan kesungguhan belajarku. Tak lebih. Dan, jika mengukur diri dengan nilai yang mereka dapatkan, aku kalah telak. Nilai-nilai yang mereka miliki berkisar di angka 3 koma. Fantastis sekali. Jika diukur dari nilai perolehan kami, aku memang dinilai lebih bodoh.
Dengan hati remuk dan perasaan yang bercampur aduk, kutemui salah seorang senior yang sudah kukenal sejak masa SMA. “kak, teman-teman asrama mengataiku ‘si otak udang’. Ia bergeming, memastikan aku tak menangis. Dengan lembut menjawab, “biarlah, toh mereka juga meraih nilai tinggi karna ketidakjujuran, rekayasa yang selalu disekongkoli.” Aku terdiam. Setauku, peraturan di kampus ini jelas mengharamkan mahasiswinya mencontek. Jangankan mencontek ketika ujian, menyalin bahan makalah mentah-mentah milik orang lain saja, sudah dikritik para dosen dan bahkan ancaman untuk mengulang bidang studi yang bersangkutan tahun depan.
Aku mangut-mangut mengiyakan kalimat kak Ica, seolah paham dan mengerti dengan maksud dan nasehatnya. Kali ini aku menjadi lebih tenang, meski pada awalnya aku tak paham maksud perkataannya.
Tak sabar, aku kembali ke asrama. Sepanjang jalan, kusiapkan kalimat untuk memaki-maki mereka yang telah menghinaku. Aku sangat marah karena hinaan itu lebih pantas untuk mereka. Tapi terbalik, justru aku yang jadi korbannya. Padahal buktinya, mereka meraih nilai-nilai bagus itu dari hasil mencontek. Geram. Baru kutahu sebab mengapa mereka yang malas, justru berhasil mendapat nilai yang hanya pantas diraih oleh orang yang bersungguh-sungguh. Dengan wajah merah padam, kumasuki asrama, tanpa salam tentu.
Kesabaran sudah sangat habis, pikiranku sudah memikirkan dan menyusun siasat agar aku bisa lebih tenang. Kurasa, ketenanganku kali ini hanya bisa diperoleh dengan cara menyerang balik. Tak sabar, kusapu peluh di dahi yang semakin banyak.
Sesampainya di dalam asrama, kejadian ganjil yang justru kudapati. Teman yang mengataiku “otak udang” tadi, justru tengah terbaring lemas dalam kerumunan teman-teman lain. Untuk kali ini, aku tak mungkin mengedepankan ego kekanak-kanakanku. Kuputar balik semua rencana burukku.
Kudatangi tempat tidurnya, tak sabar, dengan cepat aku menelepon kak Jihan, dokter poliklinik fakultas kami. Dengan segera kak jihan menangani kondisi temanku itu, lalu bergegas memeriksa dan memastikan bahwa hana harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. Kami saling berpandangan, melihat satu sama lain mencari jawaban apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan hana.
Tanpa kompromi dengan teman lain, bergegas aku mencari pertolongan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat. Kuhubungi karyawan-karyawan bersangkutan untuk menolong temanku. Akulah yang paling sibuk saat itu. Semua niat burukku untuk membalas seluruh sakit hati dan dendamku terkubur dengan rasa setia kawan yang lebih tinggi. Aku sadar, kami sama-sama merantau, jauh dari orangtua dan keluarga. Serta serba pas-pasan dalam kondisi ekonomi dan harus saling tolong-menolong.
Septi, indah, dan fitri membantuku untuk memapah hana kedalam mobil. Kali ini kondisinya turun drastis. Nafasnya terdengar semakin sesak dan tersengal. Aneh! Darah segar mengalir dari hidungnya. Aku semakin cemas mengingat jarak tempuh sekolah dengan rumah sakit tujuan kami sangat jauh. Darah segar tak henti-hentinya mengalir dari hidung temanku itu. Pucat pasi wajahnya tampak mengerikan. Kupinta fitri untuk melafadzkan ayat-ayat suci al-qur`an ditelinganya. Aku getir, lama sekali waktu yang kami butuhkan agar bisa segera sampai di rumah sakit.
“sabarlah siska, sebentar lagi kita juga sampai. Perjalanan ini terasa lama karna kau terlalu tak sabar dan terburu-buru”. Kusergak indah. “bagaimana aku bisa sabar dengan kondisi buruk hana saat ini, kalo ada apa-apa dengannya gimana? Kan kita yang kena”. Indah diam tak bergeming membalasi kalimatku.
Tak lama, kulihat gerbang rumah sakit islam nan asri dan bersih itu. Bergegas septi menghubungi staf jaga di instalasi gawat darurat, dan tentu dengan gaya bahaya khas campuran minang dan kampung aslinya di aceh. Bergegas perawat menyodorkan troli besi untuk memindahkan hana. Bajunya basah dipenuhi darah segar yang mengalir dari hidung. Staf jaga meminta salah satu diantara kami untuk menyelesaikan administrasi perawatannya terlebih dahulu. Lagi-lagi aku dijadikan sasaran mereka untuk mengurusnya.
“kak, ini mau diapakan berkasnya?” Kutanyai petugas dengan wajah sangat polos. “identitas temannya tolong diisi lengkap yaa dek.” Aku mengeryit, jujur saja aku tak paham dengan apa yang harus kulakukan. Tertera disana alamat lengkap, nama orangtua, pekerjaan orangtua, dan hal lain. Aku tersenyum dan berkata kepada petugas, “kak, nanti aja kalo aku kesini lagi gimana? Aku gag tau apa yang harus diisi”. Petugas mengangguk dan berpesan agar aku segera kembali untuk mengurus admistrasi aneh itu.
Kulihat lagi kondisi hana yang kini semakin menakutkan. Infus sudah dipasang rapih ditangan, dan selang oksigen lekat dihidungnya. Dalam sadar, kuberdo’a agar aku tak pernah mengalami kondisi ini. Aku tak siap dengan siksaan dari benda-benda yang dipaksa masuk ke dalam tubuh para pesakit di tempat ini.
Tak lama berselang, dokter yang tengah bertugas memasuki ruangan tempat hana di evakuasi. Salah seorang perawat meminta kami untuk keluar dari ruangan agar dokter lebih leluasa memeriksa kondisi hana. Kami patuh saja. Kuingat permintaan staf jaga tadi, kurasa indah lebih tau mengenai keluarga dan identitas-identitas lain tentang hana. Indah patuh saja mengikuti langkahku, kali ini giliranku mengerjainya. “kak, ini saudaranya temanku yanng sakit tadi.” Petugas itu menyodorkan sebuah map hijau berisi berkas-berkas yang harus dilengkapi indah. Aku tersenyum, “kau yang lebih tau ndah”. Ia merengut. Aku pergi dan berlalu.
Benar firasatku, hana harus dirawat dahulu di rumah sakit sampai kondisinya pulih. Dan tak cukup waktu sekitar 2 hari untuk perawatannya. Kami berembuk membahas segala hal yang berkaitan dengan kesehatan hana. Mulai dari siapa yang akan berjaga merawatnya di malam hari, bagaimana dengan admisnistrasi yang harus segera diselesaikan dengan pihak rumah sakit, hingga izin untuk tidak mengikuti perkuliahan hana dan kami yang menjaganya nanti.
Sebenarnya mudah saja untuk urusan administrasi, tapi Hana berpesan agar kami tak membetihukan perihal kondisinya kepada orangtua di kampung. Kabar terakhir yang kudengar ayahnya mengidap penyakit darah tinggi, apalagi hana adalah anak kesayangan orangtuanya di rumah, karena memang ia perempuan satu-satunya diantara 8 bersaudara. Ia berpesan agar kami mengurusi segala sesuatunya lebih dahulu, nanti jika kondisinya sudah pulih, ia akan mengganti seluruh biaya yang sudah dikeluarkan untuknya. Kami mengangguk tanda setuju atas pesannya.
setelah sholat maghrib, kusampaikan keinginanku untuk pulang ke asrama kepada teman-teman. jujur saja, aku tak betah berlama-lama berada di Rumah pesakitan ini. mereka berat untuk mengiyakan permintaanku, karna kondisi yang tak lagi terang dan gerimis yang menyapu kota kecil ini. kuyakinkan mereka kalau aku akan lebih baik jika tak berada disini, dan kujanjikan untuk meminta anggota asrama yang lain menggantikanku dan teman lain yang telah mengurus Hana di Rumah Sakit. akhirnya mereka setuju.
malam itu, tepat pukul 23:00 telpon genggamku kembali berdering. dengan sangat mengantuk, kuangkat telepon yang kurasa sangat mengganggu itu. terdengar diseberang sana orang memohon agar aku segera kembai ke Rumah Sakit. “kenapa lagi?” nada bicaraku sangat tak enak. terus terang saja, aku benci diganggu jika sedang istirahat.
“kau harus segera kembali ke Rumah Sakit Sinta, keadaannya semakin memburuk. dia butuh tranfusi darah. tolong saja kau bangunkan teman-teman asrama yang bisa membantu kita, kondisi ini genting”. aku tersentak kaget. pikiranku bertindak segera, membangunkan seisi asrama dengan nada suara mengagetkan adalah jurus utamanya. teman-teman bangun, dan menanyai alasanku membangunkan mereka.
kujelaskan dengan tergesa-gesa agar lebih meyakinkan bahwa aku sangat membutuhkan pertolongan mereka. “Hana butuh transfusi darah segera, kita tolong sekarang”. semua bergegas beranjak dari tempat tidur, mengemas diri agar bisa segera sampai di Rumah Sakit. “Alhamdulillah kuucap dalam hati. setelah kupastikan kami semua siap menyusul Hana di tempat pesakitan itu, tantagan kedua yang harus kuhadapi adalah transportasi. di tengah malam buta adalah waktu dimana para supir dan karyawan yang bertugas istirahat. aku hampir menyerah.
dibawah gelapnya malam yang dihimpun formasi bintang gemintang, kami berdoa semoga selalu ada pertolongan seperti yang hadir sebelum-sebelumnya. Maha Sucilah Dia. tak lama kami menunggu, Pak Eko satpam kompleks asrama, menghampiri kami. “kenapa malam-malam masih diluar nanda?”. beliau menyapa dengan suara paraunya. “pak, maaf sebelumnya, teman kami yang dirawat di Rumah Sakit lagi butuh tranfusi darah.” kali ini si ketua asrama yang sangat pendiam angkat bicara. “ka pai jo oto apo nak?”, pak eko bertanya dengan penuh rasa iba memastikan dengan menggunakan apa kami akan sampai disana. “jo apak bisa kan?”. aku tak lagi bisa bersabar.
akhirnya, pak eko dengan ketulusan hati bersedia menolong kami. tak ada yang berniat memejamkan mata seperti biasa jika tengah berada dalam perjalanan. hening. semua tengah berdoa dan berharap semoga Hana bisa segera pulih. sesampainya di Rumah Sakit, kami bergegas mengucap terimakasih kepada pak Eko yang telah menolong. satu persatu teman sekaligus senior yang tinggal di asrama berlari menuju ruang Hana dirawat. aku berjalan santai dibelakang sambil memikirkan, darah siapa yang harus didonorkan untuk menyelamatkan Hana.
baru saja aku sampai diruangan, Fitri memintaku untuk menemui petugas medis. sebenarnya aku tak tahu apa yang harus aku kerjakan, tapi mengingat pesannya agar aku dan kawan-kawan lain men-check golongan darah kami. aku patuh saja, kutemui salah seorang perawat yang tengah berjaga malam itu. “Pak, kami mau check darah yang cocok untuk teman kami yang sakit. aku yang selalu berani untuk bertanya. serasa bermimpi berada di Rumah Sakit ditengah malam buta ini. huffhhh, kesal sekali aku rasanya.
setelah melakukan pen-check-an darah, ternyata aku adalah orang yang paling tepat untuk mendonorkan darah kepada Hana. awalnya aku keberatan, karena kondisi fisik yang sedang tidak menungkinkan. akhirnya aku pasrah dengan bujukan teman-teman, semoga saja Allah selalu menjaga dan melindungi dari berbagai hal. dengan bismillah, kuberanikan untuk menyerahkan tubuhku disiksa dengan jarum suntik itu. semoga saja, dengan kerelaan hati dan keihklasan yang mendalam Hana bisa segera sembuh.
Seminggu berjalan, Hana akhirnya pulih kembali dan diizinkan dokter untuk pulang. Kudengar kabar baik itu dari teman yang merawatnya di rumah sakit. Sudah lama aku selalu menolak untuk menginap di Rumah Sakit karna beberapa hal. Alasan pastinya, karna aku trauma dan terlalu benci dengan Rumah Sakit. “maaf, aku dipanggil kepala asrama” kalimat ini selalu ampuh untuk menolak permintaan teman-teman ketika diminta untuk bergiliran merawat Hana. Meski begitu, aku tak lantas berdiam diri. Kutunggu kedatangannya dengan menyiapkan dipan agar ia nyaman beristirahat. Tak lama berselang, dua teman datang memapah Hana sembari mengucap salam. Ahaaa, ini dia. Teman kami sudah sehat dan dia sudah kembali ke asrama. anggota asrama kami sudah lengkap, dan ini adalah masa-masa tepat untuk mengobrol dan bercerita seperti biasa, ritual anak asrama.
setelah tertawa dan bercerita panjang lebar, kali ini, Hana yang angkat bicara. “Putri, maafin Hana yaaaa. Kemaren Hana udah ngatain anti. Tapi waktu Hana sakit, malah anti repot dan nolongin Hana. aku minta maaf banget yaaa, semoga kamu gag pernah benci ke Hana.” Hening, tak ada yang angkat bicara menyahuti pernyataan hana. Semua tertunduk, menangis. Putri tak angkat bicara, menangis sembari mengangguk dan memeluk hana.